Panduan Lengkap & Manfaat Pengaturan Posisi Pasien di Tempat Tidur

Mindfullners.com – Pada saaat melakukan pengaturan posisi pasien ini, mungkin kita telah mempelajari posisi pasien di tempat tidur yang umum kita ketahui seperti Fowler, dorsal recumbent (punggung telentang), supine (telentang), Prone, lateral, litotomi, Sims, Trendelenburg, dan posisi bedah lainnya. Pada pertemuan kali ini kita akan belajar cara memposisikan pasien dengan benar, dan pertimbangan serta intervensi keperawatan yang perlu kita lakukan serta manfaatnya.

Apa Yang Dimaksud Dengan Pengaturan Posisi Pasien?

Pengaturan posisi pasien adalah tidakan yang berguna untuk pemeliharaan keselarasan tubuh pasien dengan tujuan mencegah hiperekstensi (gerakan sendi berlebihan) dan rotasi lateral (gerakan berputar menjauhi garis tengah tubuh) yang ekstrim untuk mencegah komplikasi imobilitas dan cedera. Memposisikan pasien adalah aspek terpenting dari praktik keperawatan dan merupakan tanggung jawab seorang perawat.

Pengaturan posisi pasien dapat dilakukan dalam kondisi seperti pembedahan, pengumpulan spesimen, atau perawatan lain, pengaturan posisi pasien yang tepat dapat memberikan eksposur atau perhatian yang optimal pada pada pasien saat berada pada tempat pembedahan/perawatan dan pemeliharaan kondisi pasien dengan mengendalikan eksposur yang tidak perlu.

Apakah Tujuan Dari Pengaturan Posisi Pasien?

Tujuan akhir dari pemosisian pasien yang tepat adalah untuk melindungi pasien dari cedera dan komplikasi fisiologis dari imobilitas.Tujuan dari Pengaruran posisi pasien adalah:

  1. Memberikan kenyamanan dan keamanan pada pasien.
  2. Memberikan jalan napas adekuat dan mempertahankan sirkulasi sepanjang prosedur (misalnya dalam pembedahan, dalam pemeriksaan, pengumpulan spesimen, dan perawatan). Gangguan aliran balik vena ke jantung, dan ketidakcocokan ventilasi-ke-perfusi adalah komplikasi umum. Penempatan yang tepat meningkatkan kenyamanan dengan mencegah kerusakan saraf dan dengan mencegah ekstensi atau rotasi tubuh yang tidak perlu.
  3. Menjaga martabat dan privasi pasien. Dalam operasi, penentuan posisi yang tepat adalah cara untuk menghormati martabat pasien dengan meminimalkan eksposur pasien yang sering merasa rentan secara perioperatif.
  4. Memberikan visibilitas dan akses maksimum. Posisi yang tepat memungkinkan kemudahan akses bedah serta kemudahan untuk pemberian anestesi selama fase perioperatif.

Pedoman untuk Pengaturan Posisi Pasien

Pada saaat melakukan pengaturan posisi pasien perlu dilakukan dengan tepat untuk mencegah cedera bagi pasien dan perawat. Ingatlah prinsip dan pedoman ini saat memposisikan klien:

  1. Jelaskan prosedurnya. Berikan penjelasan kepada pasien tentang kenapa harus dilakukan perubahan posisinya dan bagaimana hal itu akan dilakukan. Komunikasi dengan yang baik dengan pasien akan membuat mereka lebih mungkin untuk mempertahankan posisi baru yang diberikan.
  2. Dorong pasien untuk membantu sebisa mungkin. Tentukan apakah klien dapat sepenuhnya atau sebagian membantu dalam perubahan posisi. Ini akan menjadi bentuk latihan gerak, meningkatkan kemandirian, dan harga diri bagi pasien.
  3. Dapatkan bantuan yang memadai. Ketika berencana untuk memindahkan atau melakukan pengaturan posisi ulang pasien, mintalah bantuan dari sejawat lain atau keluarga pasien. Penentuan posisi mungkin bukan tugas satu orang, apalagi jika pasien bedrest total.
  4. Gunakan alat bantu mekanik. Papan tempat tidur, papan luncur, bantal, lift dan sling pasien dapat memudahkan dalam mengubah posisi pasien.
  5. Angkat tempat tidur pasien. Sesuaikan atau posisikan tempat tidur pasien sehingga beratnya berada di tingkat pusat gravitasi perawat.
  6. Rubah poisisi tiap 2 jam sekali. Perhatikan bahwa posisi apa pun, benar atau salah, dapat merugikan pasien jika dipertahankan untuk jangka waktu yang lama. Mereposisi pasien setiap 2 jam membantu mencegah komplikasi seperti luka tekan dan kerusakan kulit.
  7. Hindari gesekan dan menggeser. Saat menggerakkan pasien, angkat daripada menggeser untuk mencegah gesekan yang dapat mengikis kulit sehingga lebih rentan terhadap kerusakan kulit.
  8. Mekanika tubuh yang tepat. Amati mekanika tubuh yang baik untuk keselamatan Anda dan pasien Anda.
  9. Posisikan diri dekat dengan klien.
  10. Hindari memuntir punggung, leher, dan panggul dengan menjaganya agar tetap sejajar, tekuk lutut anda dan jagalah agar tetap lebar, gunakan lengan dan kaki Anda dan bukan punggung anda. kencangkan otot perut dan otot gluteal sebagai persiapan untuk bergerak, orang dengan beban terberat mengoordinasikan upaya perawat dan memulai dengan hitungan ke 3.

12 Macam Pengaturan Posisi Pasien di Tempat Tidur

Posisi Supine atau Dorsal Recumbent

Posisi supine (telentang), atau dorsal recumbent (punggung telentang), adalah posisi pasien berbaring telentang dengan kepala dan bahu sedikit terangkat menggunakan bantal kecuali di kontraindikasikan (misalnya Anestesi spinal, operasi tulang belakang).

  1. Variasi dalam posisi. Dalam keadaan posisi telentang, kaki diluruskan atau sedikit ditekuk dengan posisi lengan ke atas atau ke bawah. posisi ini memberikan kenyamanan secara umum bagi pasien pada pemulihan setelah beberapa jenis operasi.
  2. Posisi yang paling umum digunakan. Posisi pasien telentang umum dilakukan pada saat melakukan pemeriksaan umum atau penilaian fisik.
  3. Hati-hati terhadap kerusakan kulit. Posisi telentang yang cukup lama dapat mengakibatkan luka tekan dan kerusakan saraf yang disebabkan tekanan pada tonjolan tulang di permukaan tempat tidur.
  4. Dukungan untuk posisi terlentang. Berikan bantal kecil yang diletakkan di bawah kepala pasien. Tumit harus dilindungi dari tekanan dengan menggunakan bantal pada pergelangan kaki. Cegah fleksi plantar (gerakan mengangkat tumit kaki atau berjinjit) yang berkepanjangan dan regangkan jika terdapat cedera kaki dengan menempatkan alas pada kaki yang empuk.
  5. Posisi telentang dalam operasi. Posisi terlentang sering dilakukan pada pada saat prosedur yang melibatkan permukaan anterior tubuh (misaalnya area perut, jantung, area dada). Bantal kecil atau bantal donat dapat digunakan untuk menstabilkan bagian kepala, karena pada rotasi ekstrem dibagian kepala selama operasi dapat menyebabkan penyumbatan arteri vertebralis.

Posisi Fowler & Semi Fowler

Posisi Fowler dikenal sebagai posisi semi-duduk atau setengah duduk dimana posisi kepala pada tempat tidur dinaikkan 30 sampai 45 derajat. Variasi posisi Fowler meliputi: Fowler rendah (15 hingga 30 derajat), semi-Fowler (30 hingga 45 derajat), dan Fowler tinggi (hampir vertikal) atau 80 sampai 90 derajat.

  1. Meningkatkan ekspansi paru-paru. Posisi Fowler digunakan pada pasien yang mengalami kesulitan bernapas karena dalam posisi ini, gravitasi akan menarik diafragma ke bawah sehingga memungkinkan ekspansi dada dan paru-paru yang lebih besar.
  2. Berguna untuk pemasangan NGT. Posisi Fowler berguna untuk pasien yang memiliki masalah pada jantung, pernapasan, atau neurologis dan untuk mengoptimal pada saat pemasangan NGT nasogastrik.
  3. Persiapan dan latihan sebelum berjalan. Posisi fowler berguna untuk mempersiapkan pasien sebelum dapat berjalan setelah dilakukan tindakan operasi atau perawatan. Yang perlu kita waspadai adanya pusing atau pingsan selama pergantian posisi ini.
  4. Waspadai kontraksi fleksi leher. Hindari penempatan bantal yang terlalu besar pada area belakang kepala pasien, hal dapat mendorong terjadinya kontraksi fleksi pada leher. Anjurkan pasien untuk beristirahat tanpa bantal selama beberapa jam setiap hari untuk relaksasi leher.
  5. Digunakan di beberapa operasi. Posisi Fowler biasanya dilakukan dalam operasi yang melibatkan bedah saraf atau bahu.
  6. Gunakan alas kaki. Menggunakan alas kaki disarankan untuk dapat menjaga kaki pasien tetap lurus dan membantu mencegah terjatuhnya kaki.
  7. Etimologi. Posisi Fowler dinamai sesuai nama George Ryerson Fowler yang melihatnya sebagai cara untuk mengurangi kematian peritonitis.

Posisi Orthopneic atau Tripod

Posisi ortopneik atau tripod adalah menempatkan pasien dalam posisi duduk atau di sisi tempat tidur dengan meja di atas untuk bersandar dan beberapa bantal di atas meja untuk beristirahat.

  1. Memaksimalkan ekspansi paru. Pasien dengan kesulitan bernafas sering ditempatkan dalam posisi ini karena dapat memungkinkan ekspansi maksimal dada.
  2. Membantu pengeluaran napas adekuat. Posisi ortopneik sangat bermanfaat bagi pasien yang memiliki masalah menghembuskan napas.

Posisi Prone atau Tengkurap

Posisi prone atau tengkurap adalah dimana posisi pasien berbaring di perut dan kaki diberikan bantal dengan kepala menghadap ke satu sisi dan pinggul tidak tertekuk.

  1. Ekstensi penuh sendi pinggul dan lutut. Posisi tengkurap adalah satu-satunya posisi tidur yang memungkinkan ekstensi penuh sendi pinggul dan lutut.Posisi ini dapat membantu mencegah kontraktur fleksi pinggul dan lutut.
  2. Kontraindikasi untuk masalah tulang belakang. Tarikan gravitasi pada batang tubuh ketika pasien tengkurap menghasilkan tanda lordosis atau kelengkungan pada tulang belakang ke depan sehingga dikontraindikasikan untuk pasien dengan masalah pada tulang belakang. Posisi tengkurap ini hanya boleh digunakan ketika punggung pasien dapat diluruskan dengan benar.
  3. Drainase sekresi. Posisi tengkurap juga mempromosikan drainase dari mulut dan berguna untuk pasien yang tidak sadar atau mereka yang dalam masa pemulihan pasca operasi mulut atau tenggorokan.
  4. Tempatkan topangan adekuat. Untuk menopang pasien yang tengkurap, letakkan bantal di bawah kepala dan bantal kecil atau handuk guling di bawah perut.
  5. Dalam operasi. Posisi tengkurap sering digunakan untuk bedah saraf, di sebagian besar operasi leher dan tulang belakang.

Posisi Lateral

Dalam posisi lateral atau berbaring miring, posisikan pasien berbaring miring di satu sisi tubuh dengan tungkai atas di depan tungkai bawah dan pinggul serta lutut tertekuk. Posisi ini dapat melenturkan pinggul dan lutut bagian atas serta menempatkan kaki ini di depan tubuh dan menciptakan basis dukungan yang lebih luas serta mencapai stabilitas yang lebih besar. Peningkatan fleksi pada pinggul dan lutut atas memberikan stabilitas dan keseimbangan yang lebih besar. Fleksi ini mengurangi lordosis (kelainan tulang belakang) dan meningkatkan keselarasan punggung yang baik.

  1. Meredakan tekanan pada sakrum dan tumit. Posisi lateral membantu meringankan tekanan pada sakrum dan tumit terutama bagi orang-orang yang duduk atau terbatas pada istirahat di posisi terlentang atau Fowler.
  2. Distribusi berat badan. Dalam posisi ini, sebagian besar berat badan didistribusikan ke aspek lateral skapula bawah, aspek lateral ilium, dan trokanter femur yang lebih besar.
  3. Bantal pendukung dibutuhkan. Untuk memposisikan pasien dalam posisi lateral dengan benar, diperlukan bantal penopang. Lihat gambar.

Posisi Sims

Posisi Sims atau posisi semiprone adalah posisi pasien dalam posisi setengah jalan antara posisi lateral dan posisi setengah tengkurap. Lengan bawah diposisikan lurus di belakang pasien, dan lengan atas dilenturkan di bahu dan siku. Kaki bagian atas lebih fleksibel di kedua pinggul dan lutut, daripada yang lebih rendah.

  1. Mencegah aspirasi cairan. Posisi sims dapat digunakan pada pasien yang tidak sadar karena memfasilitasi drainase dari mulut dan mencegah aspirasi cairan.
  2. Mengurangi tekanan tubuh yang lebih rendah. Posisi ini juga digunakan untuk pasien lumpuh untuk mengurangi tekanan pada sakrum dan trochanter pinggul yang lebih besar.
  3. Perawatan dan Visualisasi area perineum. Posisi ini sering digunakan untuk pasien yang menerima enema (prosedur minimal invasif) dan kadang-kadang untuk pasien yang menjalani pemeriksaan atau perawatan daerah perineum.
  4. Wanita hamil merasa nyaman. Pada wanita hamil akan sangat nyaman dengan posisi sims untuk tidur.
  5. Tingkatkan keselarasan tubuh dengan bantal. Letakkan bantal di bawah kepala pasien dan di bawah lengan atas untuk mencegah rotasi internal. Tempatkan bantal lain di antara kaki.

Posisi Lithotomy

Posisi berbaring (Litotomi) adalah suatu posisi melahirkan dimana seorang ibu berbaring di atas tempat tidur, dan menggantungkan betisnya pada penopang yang biasanya ada pada tempat tidur obstetri. Kelebihan dari posisi ini adalah dokter dapat dengan leluasa mengukur perkembangan proses melahirkan.

  1. Posisi litotomi umumnya digunakan untuk pemeriksaan vagina dan persalinan.
  2. Modifikasi posisi lithotomy diantaranya lithotomy rendah, standar, tinggi, hemi, dan over, berdasarkan seberapa tinggi tubuh bagian bawah diangkat sampai tingkat elevasi tertentu untuk menunjang prosedur.

Posisi Trendelenburg

Posisi Trendelenburg dilakukan dengan menurunkan kepala pada tempat tidur dan mengangkat kaki tempat tidur pasien dengan posisi lurus. Lengan pasien diposisikan lurus di samping tubuh.

  1. Aliran balik vena – venous return – adekuat. Posisi ini sering di gunakan pada pasien dengan hipotensi agar aliran balik vena adekuat dapat meningkatkan tekanan darah.
  2. Postural drainase. Posisi Trendelenburg juga dapat dilakukan untuk memberikan postural drainase dari lobus paru basal. Berhati-hatilah terhadap dispnea, beberapa pasien mungkin hanya memerlukan kemiringan sedang atau waktu yang lebih singkat dalam posisi ini selama drainase postural. Sesuaikan sesuai toleransi pasien.

Posisi Reverse Trendelenburg

Reverse Trendelenburg adalah posisi pasien dimana posisi kepala pasien lebih tinggi pada tempat tidur ditinggikan dengan kaki tempat tidur menghadap ke bawah. Ini adalah kebalikan dari posisi Trendelenburg.

  1. Masalah gastrointestinal. Reverse trendelenburg sering digunakan untuk pasien dengan masalah pencernaan karena dapat membantu meminimalkan refluks esofagus (gangguan pencernaan kronis).
  2. Cegah perubahan posisi dengan cepat. Pasien dengan penurunan curah jantung mungkin tidak mentolerir gerakan cepat atau perubahan dari posisi terlentang ke posisi yang lebih tegak. Waspadai hipotensi. Ini dapat diminimalkan dengan secara bertahap mengubah posisi pasien.
  3. Cegah refluks esofagus. Dorong pasien untuk mengosongkan lambung untuk mencegah refluks pada pasien dengan hernia hiatal.

Posisi Knee-Chest

Posisi lutut-dada, bisa dilakukan dalam posisi lateral atau prone. Dalam posisi lutut-dada lateral, pasien berbaring miring, badan diletakkan diagonal di atas meja, pinggul dan lutut dilipat. Dalam posisi lutut-dada pronasi, pasien berlutut di atas meja dan menurunkan bahu ke atas meja sehingga dada dan wajah terletak di atas meja.

  1. Dua arah. Posisi lutut-dada bisa lateral atau pronasi.
  2. Sigmoidoskopi. Posisi biasa diadopsi untuk sigmoidoskopi tanpa anestesi.
  3. Martabat pasien. Posisi lutut-dada dengan pronasi dapat memalukan bagi beberapa pasien.
  4. Pemeriksaan ginekologis dan dubur. Posisi lutut-dada diasumsikan untuk pemeriksaan ginekologis atau dubur.

Posisi Jackknife

Posisi Jackknife, juga dikenal sebagai Kraske, adalah tempat perut pasien terbaring rata di tempat tidur. Tempat tidur dipotong sehingga pinggul terangkat dan kaki dan kepala rendah.

  1. Dalam operasi. Posisi Jackknife sering digunakan untuk operasi yang melibatkan anus, rektum, tulang ekor, operasi punggung tertentu, dan operasi adrenal.
  2. Membutuhkan upaya tim. Setidaknya empat orang diminta untuk melakukan transfer dan memposisikan pasien di meja operasi.
  3. Efek kardiovaskular. Dalam posisi pisau lipat, kompresi vena cava inferior dari kompresi perut juga terjadi, yang menurunkan aliran balik vena ke jantung. Ini dapat meningkatkan risiko trombosis vena dalam – deep vein trombosis.
  4. Bantalan ekstra. Banyak bantal diperlukan di meja operasi untuk menopang tubuh dan mengurangi tekanan pada panggul, punggung, dan perut. Posisi Jackknife juga memberi tekanan berlebih pada lutut. Saat memposisikan, staf bedah harus menempatkan bantalan ekstra untuk area lutut.

Posisi Kidney

Dalam posisi kidney, pasien mengasumsikan posisi lateral yang dimodifikasi di mana perut diletakkan di atas lift di meja operasi yang menekuk tubuh. Pasien diposisikan di sisi kontralateral dengan punggung diletakkan di tepi meja. Ginjal kontralateral diletakkan di atas meja atau di atas kidney body elevator (aksesoris tambahan meja operasi). Lengan paling atas ditempatkan menekuk fleksi tidak lebih dari 90º.

  1. Akses ke daerah retroperitoneal. Posisi kidney memungkinkan akses dan visualisasi daerah retroperitoneal adekuat.
  2. Risiko jatuh. Pasien dapat jatuh dari meja kapan saja sampai posisi diamankan menggunakan pengaman atau tali strain.
  3. Dukungan bantalan dan stabilisasi. Lengan kontralateral di bawah tubuh dilindungi dengan bantalan. Lutut kontralateral tertekuk dan kaki paling atas dibiarkan lurus untuk meningkatkan stabilitas. Bantal lembut besar ditempatkan di antara kedua kaki. Tali strain dan strap diletakkan di atas pinggul untuk menstabilkan pasien.

Dokumentasi Pengaturan Posisi Pasien

Dokumentasikan perubahan posisi pasien dalam bagan pasien. Perhatikan dan catat hal-hal berikut ini:

  1. Tanggal dan waktu prosedur.
  2. Penjelasan prosedur kepada pasien.
  3. Indikasi dari perubahan posisi pasien termasuk rasionalnya.
  4. Pendidikan kesehatan yang diberikan.
  5. Respons pasien terhadap prosedur.

Daftar Pustaka

Ritchie, I. K. (2003). Positioning Patients for SurgeryBy Chris Servant & Shaun Purkiss Greenwich Medical Media ISBN 1841100528£ 22.50.
Miranda, A. B., Fogaça, A. R., Rizzetto, M., & Lopes, L. C. C. (2016). Surgical positioning: nursing care in the transoperative period. Rev SOBECC, 21(1), 52-8. [Link]
Berman, A., Snyder, S. J., Levett-Jones, T., Dwyer, T., Hales, M., Harvey, N., … & Stanley, D. (2018). Kozier and Erb’s Fundamentals of Nursing [4th Australian edition].
Rosdahl, C. B., & Kowalski, M. T. (Eds.). (2008). Textbook of basic nursing. Lippincott Williams & Wilkins.
Park, C. K. (2000). The effect of patient positioning on intraabdominal pressure and blood loss in spinal surgery. Anesthesia & Analgesia, 91(3), 552-557.
Beckett, A. E. (2010). Are we doing enough to prevent patient injury caused by positioning for surgery?. Journal of perioperative practice, 20(1), 26-29.
Price, P., Frey, K. B., & Junge, T. L. (2004). Surgical technology for the surgical technologist: A positive care approach. Taylor & Francis.

274 Semua Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *